Santunan 1300 paket sembako untuk dhuafa, kerjasama antara keluarga besar H. Saleh Said, UPU, dan Yayasan As-Siddik Al Khairiyyah
Minggu, 01 Januari 2017
Sabtu, 31 Desember 2016
Jalan Menuju Surga
عَنْ
أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ،
وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ
شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ
Dari
Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ’anhuma bahwa seorang
lelaki bertanya kepada Rasulullah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana
pendapatmu jika aku mengerjakan shalat fardhu dan berpuasa ramadhan, aku
haramkan yang haram, dan aku halalkan yang halal, apakah aku akan masuk surga?”
Beliau menjawab, “Ya.” (H.R.
Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Al Iman/15/Abdul Baqi])
Penjelasan:
Asy-Syaikh rahimahullah
mengatakan, hadits yang ke-22 ini perkataannya, “Bagaimana pendapatmu?” Maknanya adalah beritakanlah kepadaku. “Bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan
shalat yang fardhu.” Maksudnya adalah shalat-shalat fardhu, yakni shalat
lima waktu dan shalat jum’at. “Aku
berpuasa Ramadhan.” Yakni bulan di antara bulan Sya’ban dan Syawwal. “Dan aku halalkan yang halal.” Yakni aku
mengerjakannya dan meyakini kehalalannya. “Aku
haramkan yang haram.” Yakni, aku menjauhi dan meyakini keharamannya. “Dan aku tidak melakukan lebih dari itu,
apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.”
Dalam hadits ini, seorang lelaki bertanya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Jika dia mengerjakan shalat fardhu,
berpuasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang
haram, dan dia tidak melakukan lebih dari itu sedikit pun, apakah ia akan masuk
surga?” Beliau menjawab, “Ya.”
Dalam hadits ini tidak disebutkan zakat dan ibadah haji. Ada yang berpendapat
bahwa hal itu masuk dalam perkataannya, “Aku
haramkan yang haram.” Karena meninggalkan haji haram hukumnya, demikian
juga meninggalkan zakat. Mungkin juga dikatakan terkait dengan ibadah haji,
bisa jadi hadits ini diucapkan sebelum diwajibkannya ibadah haji. Adapun yang
berkaitan dengan zakat, bisa jadi Nabi mengetahui keadaan orang tersebut. Bahwa
dia adalah orang miskin, tidak tergolong orang yang diwajibkan untuk
mengeluarkan zakat, maka beliau berbicara kepadanya sesuai dengan keadaannya.
Hadits ini mengandung beberapa faedah:
1. Antusias para sahabat untuk bertanya kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Tujuan akhir dari kehidupan ini adalah masuk ke
dalam surga.
3. Pentingnya shalat-shalat fardhu. Bahwa
shalat-shalat tersebut merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga dengan
disertai amalan-amalan lainnya yang disebutkan dalam hadits ini.
4. Pentingnya ibadah puasa.
5. Wajibnya menghalalkan yang halal dan
mengharamkan yang haram, yaitu seseorang mengerjakan perkara yang halal, seraya
meyakini kehalalannya. Akan tetapi, dalam hal-hal yang halal, seseorang diberi
pilihan, jika ia mau, ia bisa mengerjakannya, jika tidak, ia bisa
meninggalkannya. Adapun perkara yang haram ia harus menjauhinya, dan ia pun
harus meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang haram. Engkau mengerjakan yang
halal dengan meyakini kehalalannya dan menjauhi yang haram dengan meyakini
keharamannya.
6. Pertanyaan adalah tempat kembalinya jawaban.
Karena jawaban beliau “Ya”, maksudnya
adalah engkau akan masuk surga. Imam An-Nawawi berkata, “Aku haramkan yang haram”, maknanya adalah aku menjauhinya.
Seyogyanya adalah dikatakan, “Menjauhinya
dengan meyakini keharamannya.” Wallahu
a’lam.
(Dikutip dari kitab Syarah Arba’in An-Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)Jika Ingin Anakmu Shaleh
Sebagian kaum muslimin ada yang sudah siap menjadi orangtua
jauh-jauh hari sebelum menikah atau memiliki anak. Mereka tak letih belajar,
belajar, dan belajar, baik melalui taklim, pengajian, melalui buku, bertanya,
dan sarana-sarana lainnya. Ketika dikarunia anak, maka ia telah siap
memaksimalkan usaha untuk memiliki anak yang shaleh. Namun sebagian kaum
muslimin, ada yang tidak siap menjadi orangtua yang baik bagi buah hatinya.
Mereka menjadi orangtua karena tuntutan usia saja. Awalnya ia anak-anak, lalu
menjadi remaja, kemudian muda, menikahlah ia, kemudian dikaruniai anak tanpa
persiapan ilmu yang memadai. Mereka malas belajar tentang trik dan cara
mendidik anak, buta tentang pola pendidikan ala Nabi Muhammad.
Akhirnya, si anak mendapatkan pendidikan
seketemunya dari orangtua. Memang sang bapak dan ibu sangat berharap anaknya
menjadi anak yang shaleh, tapi si anak tidak mendapatkan pendidikan yang
berkualitas dari ayah dan ibunya. Jadinya, seperti pungguk merindukan bulan,
jauh panggang dari api. Ada kesenjangan antara harapan dan realita.
Contoh lain, orangtua berharap anaknya rajin
shalat. Tapi orangtuanya tidak pernah berdoa kepada Allah, “Ya Allah berilah
aku buah hati yang ahli sujud.” Malah
dulu waktu berhubungan suami istri tidak berdoa terlebih dahulu karena memang
tidak hapal doanya. Setelah si anak agak besar tidak dididik cara shalat yang
benar, tidak dititipkan ke lembaga keagamaan. Pokoknya si anak dibiarkan begitu
saja tanpa pengajaran. Mungkinkah orangtua tersebut akan mendapati si anak sesuai
harapannya, yaitu rajin shalat. Sungguh sulit untuk diwujudkan.
Satu contoh lagi, orangtua berharap si anak
menjadi orang yang dermawan. Tapi orangtuanya tidak menjadi uswah hasanah bagi anaknya. Si anak sangat jarang
melihat ayah ibunya membantu saudara dan tetangganya. Si anak pun tidak
dikenalkan dengan sosok Nabi Muhammad yang sangat pemurah. Si anak tidak
diajari tentang untungnya menjadi manusia dermawan.
Butuh Sekolah yang Baik
Di Indonesia ini lembaga pendidikan terdiri
dari dua, lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan Islam. Misal di level
SD, maka ada SD Umum dan SD Islam. SD Umum terdiri dari SD Negeri dan SD
Swasta. Bedanya, di SD Negeri atau SD Swasta umum itu porsi pendidikan agama
hanya 3 jam per pekan. Itu pun hanya pengetahuan kognitif. Biasanya di SD
Negeri juga amalan keagamaan diserahkan ke masing-masing individu. Misal pas
waktu dhuhur, tidak ada bimbingan dan instruksi pada seluruh anak untuk shalat
dhuhur baik secara munfarid maupun berjamaah. Pokoknya tugas guru terbatas mengajar
di kelas. Sangat mungkin ada juga guru di SD Umum yang menyuruh anak didiknya
shalat dhuhur, tapi itu sifatnya arahan personal bukan kelembagaan sekolah
secara resmi.
Nah, menyaksikan hal ini, terus
terang saya prihatin dengan dunia pendidikan di Indonesia yang seperti ini.
Mengapa? karena kalau membaca tujuan pendidikan nasionalnya sudah bagus, yaitu
di antaranya menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa. Mungkinkah si
peserta didik bisa beriman dan bertakwa di lingkungan sekolah yang sistemnya
tidak menyokong seperti ini? Anak itu kan belajar dari melihat sekelilingnya.
Selama enam tahun di SD, anak kita melihat guru yang menerangkan di kelas
sambil merokok, minum dan makan menggunakan tangan kiri sambil berdiri, bapak
dan ibu guru yang bukan muhrim berboncengan kalau naik kendaraan. Wah sangat berat mewujudkan siswa yang
bertakwa. Mohon maaf, saya menyaksikan sendiri ada ibu guru yang merokok.
Shalat dhuhurnya dibekel ke rumah jam dua siang. Akan tegakah
kita menitipkan anak pada pengajar seperti itu?
Kini banyak bermunculan lembaga pendidikan
Islam, misal di level SD ada SD Islam. Namanya bisa berbeda-beda; SD Islam atau
SD Plus atau SDIT. Kehadiran SD-SD tersebut seperti mengindikasikan dua hal. Pertama, sebagai kritik
terhadap SD umum yang terkesan seadanya. Yang penting belajar, tidak lebih dari
itu. Kedua, idealitas agar
anak muslim mendapatkan pendidikan agama dan umum berkualitas.
Terus terang, saya sangat bergembira dengan
bermunculannya lembaga pendidikan Islam pada jenjang sekolah dasar atau SD.
Orangtua bisa mempercayakan pendidikan putra-putrinya pada sekolah yang islami.
Di SD Islam, anak-anak diajarkan akidah yang lurus, ibadah yang benar, dan
akhlak yang terpuji. Di samping itu, prestasi siswa di bidang pengetahuan umum
pun bisa bagus karena dibimbing oleh guru yang amanah dan profesional.
Ya paling pesan saya, antara satu lembaga pendidikan
Islam dengan lembaga pendidikan Islam lain jangan dirasakan sebagai musuh dan
kompetitor yang membahayakan, tapi lebih pada mitra. Ketika animo masyarakat
sangat besar menyekolahkan ke lembaga Islam, kan belum tentu bisa ditampung di satu
lembaga. Jadi, beruntung ada lembaga pendidikan Islam yang lain yang sama-sama
mendidik generasi muslim dengan pendidikan yang sama baiknya.[]
Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1. Direktur UPU
2. Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3. Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah
Sunnah-sunnah di Hari Raya Fithri
- SHALAT IED. Shalat dua rakaat sebelum khutbah merupakan sunnah yang tidak boleh diabaikan. Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat Idul Fithri atau Idul Adha sebelum khutbah, kemudian mereka khutbah.” (H.R. At-Tirmidzi). Kaum wanita haidh dianjurkan datang untuk mendengarkan khutbah Ied, walaupun tidak ikut melaksanakan shalat.
- MANDI DAN BERHIAS. Dalam Ahkam Al-Ied, Al-Faryabi mengatakan, Sunnah Ied itu ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum berangkat, dan mandi. Kebiasaan Rasulullah dan para sahabat radhiyyallahu ‘anhum sebelum menuju lapangan adalah mandi dan memakai parfum.
- MAKAN SEBELUM KE LAPANGAN. Dari Anas bin Malik, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari Idul Fithri, hingga beliau makan beberapa buah kurma.” (H.R. Al-Bukhari).
- AJAK KELUARGA. Ummu Athiyah berkata, “Kami diperintahkan, yakni oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membawa para gadis yang sudah baligh, dan gadis pingitan pada hari Ied. Sehingga mereka bisa menyaksikan jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Dan wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.”
- BERJALAN KAKI. Ali bin Abi Thalib berkata, “Termasuk sunnah berangkat ke lapangan dengan berjalan kaki dan makan terlebih dahulu sebelum keluar rumah.” (H.R. At-Tirmidzi). Jika memberatkan, maka boleh berkendaraan.
- MENGUMANDANGKAN TAKBIR. Nabi dan para sahabat biasa mengumandangkan takbir mulai keluar rumah hingga menjelang melaksanakan shalat. Sebagaimana Abdullah bin Umar mengeraskan suara takbir pada hari Idul Fithri saat berangkat ke tempat shalat, hingga imam keluar dan beliau mengikuti takbirnya.
- LEWAT JALAN BERBEDA. Ketika mau pulang ke rumah setelah mendengarkan khutbah, sebaiknya mengambil jalan lain selain jalan yang digunakan saat berangkat. Jabir bin Abdullah berkata, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Ied mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui sewaktu berangkat.” (H.R. Al-Bukhari).
- UCAPKAN SELAMAT. Dianjurkan mengucapkan selamat Ied kepada kaum muslimin pada hari ini sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in, seperti Abu Umamah Al-Bahili mengucapkan, “Taqabbalallaahu minnaa wa minkum.” (Semoga Allah menerima amalan kita semua).[]
Adab-adab Shaum Ramadhan
1. Niat Shaum. Maksudnya,
kesengajaan hati untuk melaksanakan shaum Ramadhan di siang hari. Niat tidak
usah dilafadkan. Melafadkan niat dinilai sebagai perbuatan yang diada-adakan
dan tidak masuk akal, karena niat tempatnya di dalam hati, bukan di lisan.
Orang yang niat shaum Ramadhan tidak perlu memperbaharui niat pada setiap malam
bulan Ramadhan, cukup ia berniat melaksanakan ibadah shaum saat akan memasuki
bulan Ramadhan.
2. Mengakhirkan Sahur. Waktu
sahur yang paling baik menjelang shubuh, kira-kira sama dengan orang yang
membaca Al-Quran 50 ayat dengan tartil. Inilah sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Mengakhirkan
sahur lebih mengenakkan bagi orang yang shaum dan lebih selamat dari serangan
kantuk. Ukuran 50 ayat sekitar 10 – 15 menit menjelang adzan shubuh.
3. Menyegerakan Berbuka. Dalam
hadits Al-Bukhari Rasulullah bersabda, “Manusia
senantiasa berada dalam kebaikan sepanjang menyegerakan buka.” Shaum ditetapkan dari mulai
terbit fajar sampai tibanya waktu maghrib. Bila maghrib telah tiba, maka
disunnahkan segera mencicipi makanan ringan yang manis. Jadi, orang yang segera
berbuka akan meraih pahala lebih besar daripada yang menunda-nundanya.
4. Tidak Berlebihan dalam Makan. Jangan
terlalu kenyang makan malam, harus sekedarnya saja. Jika terlalu kenyang,
kemungkinan tidak bisa mengisi malam dengan ibadah yang utama. Demikian juga
jangan makan terlalu kenyang di waktu sahur, sebaiknya sekedarnya saja agar di
siang hari bisa lebih energik mengisi waktu dengan aktivitas bermanfaat. Ingat,
Nabi Yahya ‘alaihissalam pernah dikalahkan setan satu kali
seumur hidupnya, gara-gara makan kekenyangan.
5. Banyak Beramal Shaleh. Pahala
ibadah di bulan Ramadhan berlipat-lipat nilainya. Amalan sunnah dinilai wajib
dan amalan wajib dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Bacalah
Al-Quran, berdoa, berzikir, shalat, sedekah, atau mendalami ilmu syar'i. Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan amalan Rasulullah, “Adalah Rasulullah orang yang
paling dermawan. Dan ia semakin dermawan lagi ketika bulan Ramadhan pada saat
Jibril mengecek kembali Al-Quran yang telah dihapal oleh Nabi. Sungguh Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu jauh lebih dermawan daripada angin
yang berhembus dengan cepat.”[]
Laporan Keuangan Bulan Mei 2016
LAPORAN KEUANGAN
UPU (UMAT PEDULI UMAT)
YAYASAN BAHTERA NUH ALAIHISSALAM
Sampai dengan tanggal
31 Mei 2016
|
PEMASUKAN BULAN MEI
|
JUMLAH
|
|
|
|
1. Saldo Bulan
April 2016
|
Rp 668.150
|
|
|
2. Guru dan
Karyawan TKIT dan SDIT Bahtera Nuh
|
Rp
202.000
|
|
|
3. Santri TKIT dan
SDIT Bahtera Nuh
|
Rp
700.000
|
|
|
4. Hamba Allah
|
Rp
1.400.000
|
|
|
5. Hamba Allah
|
Rp
800.000
|
|
|
6. Hamba Allah
|
Rp
900.000
|
|
TOTAL PEMASUKAN
|
Rp
4.670.150
|
|
|
PENGELUARAN BULAN MEI
|
JUMLAH
|
|
|
|
1. Uang Saku
Mahasiswa Al-Islam Bekasi
|
Rp
200.000
|
|
|
2. Iuran 3 Santri
Dhuafa Jenjang SD
|
Rp
190.000
|
|
|
3. Santunan ke
Siswa Dhuafa Sukarajin Katapang
|
Rp
300.000
|
|
|
4. Santunan ke
Madrasah Al-Muawwanah Cikoneng
|
Rp
100.000
|
|
|
5. Santunan ke
Madrasah Al-Hikmah Tanjung
|
Rp
100.000
|
|
|
6. Penyelenggaraan
Fundraising Basic Training
|
Rp
700.000
|
|
|
7. Santunan Sembako
pada 6 Warga Dhuafa Gandasari
|
Rp
600.000
|
|
TOTAL PENGELUARAN
|
Rp
2.190.000
|
|
|
Saldo s.d. Tanggal 31 Mei 2016
|
Rp
2.480.150
|
|
“Dan apa saja
harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka (faedahnya) itu
untuk kamu sendiri.” (Q.S.
Al-Baqarah: 272)
Anda tertarik untuk menjadi donatur UPU?
Hubungi kantor kami:
Yayasan Bahtera Nuh Alaihissalam
Jl. Gandasoli Kidul No. 42 Gandasari Katapang
Bandung 40971
Rekening: BRI no. rek. 1140-01-009277-50-0
a.n. Yayasan Bahtera Nuh Alaihissalam
Konfirmasi transfer ke 0853 1514 7405 / 0813
2018 8228
Harta yang disedekahkan merupakan harta kita yang
sebenarnya. Pahala sedekah tersebut akan langsung kita nikmati di dunia ini dan
juga di akhirat kelak. Insya Allah.
Ketika Anak Suka Berbohong
Di antara tugas orangtua adalah mendidik buah hatinya menjadi manusia yang jujur
dan jauh dari perilaku bohong. Jika banyak orang yang merasa beruntung dengan
kebohongan, maka para orangtua harus mengajarkan kepada anaknya bahwa
keberuntungan itu hanya akan diperoleh melalui sikap jujur.
Mengapa Anak Suka Berbohong?
Ada
banyak penyebab mengapa anak berbohong. Bisa jadi contoh buruk dari orangtua dan lingkungannya. Maksudnya, si anak meniru kebohongan yang dilakukan orangtua dan
lingkungannya hidup. Bisa juga karena si anak menghindarkan diri dari hukuman. Ia berbohong karena
khawatir mendapatkan hukuman dari orangtua, guru, atau temannya baik hukuman
itu bersifat fisik atau pun non fisik (hukuman verbal). Jadi ia trauma atas
perlakuan orangtua pada dirinya. Misal, si anak memecahkan piring. Datanglah
orangtua dengan wajah marah. Si anak takut karena sebelumnya juga pernah
memecahkan piring dan dihukum pukul oleh orangtuanya.
Kemungkinan
lainnya anak berbohong adalah untuk
menarik simpati dan perhatian. Misalnya untuk menarik simpati
dan perhatian teman-temannya, ia mengaku pernah naik kapal terbang
bersama ayahnya. Padahal ia sama sekali tidak naik kapal terbang, pergi ke
bandara pun tidak pernah. Kemungkinan selanjutnya, anak berbohong untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Anak mengetahui bahwa dia tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkannya
jika bersikap jujur. Oleh karena itu, anak berbohong demi mendapatkan apa yang
diinginkannya. Misal ia berkata pada temannya, “Eh, itu mobil-mobilanmu ada kotoran ayamnya. Ih jijik.” Setelah dibuang oleh temannya, mobil-mobilan pun malah diambil olehnya.”
Menghadapi Anak yang Suka Berbohong
1. Sebagai orangtua
kita dituntut untuk bijaksana. Bila kita mendapati anak berbohong, kita tidak boleh langsung
marah-marah, mengadili anak dengan berbagai macam konsep dosa dan neraka.
Efeknya, anak akan tetap berbohong.
2. Cari tahu benarkah
anak berbohong dan untuk apa ia berbohong. Tidak perlu marah, bersikap
menyelidik, menghakimi, atau dengan
mengancam. Jika anak merasa terancam, lain waktu ia tidak akan mengaku, bahkan
akan berusaha mengarang kebohongan lain.
3. Jika anak
berbohong, beri pengertian kepada anak bahwa perilaku berbohongnya tidak
disukai dan dapat berakibat buruk bagi dirinya dan orang lain. Misal akan
dijauhi teman, Anda bisa menceritakan
kisah penggembala yang berbohong dan serigala.
4. Hukuman boleh diberikan jika kadar dan
akibat kebohongannya benar-benar parah. Namun jangan menghukum dengan hukuman
fisik. Berikan hukuman yang mendidik, misalnya berupa memutus beberapa fasilitas anak. Anak dilarang menonton acara
televisi kesukaannya atau memberikan tugas membersihkan kamar tidur.
Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Berbohong?
Seringkali,
orangtua menemui kesulitan saat harus mengatakan kebenaran pada anak. Itu
sebabnya, sadar atau tidak sadar, orangtua sering melontarkan ‘bohong putih’.
Misal
ada anak yang kulitnya hitam. Si anak mengadu kepada ayahnya karena sering
diledek oleh teman-temannya. Kemudian sang ayah menghibur anaknya ini dengan
mengatakan bahwa kulit anaknya tidak hitam. Sang ayah meyakinkan
anaknya bahwa teman-temannya salah. Ini
dinamakan ‘bohong putih’ alias White lie.
'Bohong
putih' sering diartikan para orangtua sebagai kebohongan untuk tujuan baik.
Dalam hal ini, untuk menyederhanakan masalah atau melindungi kepolosan anak
yang belum cukup umur mengerti topik pembicaraan tertentu.
Meski
banyak orang menganggap 'berbohong putih' yang dilakukan sesekali tidak
apa-apa, namun dari sisi psikologi perkembangan anak, ‘berbohong putih’
tetaplah suatu kebohongan yang bisa berdampak negatif bagi anak. Dengan melakukan ‘berbohong putih’, maka si anak telah menerima pesan yang
salah dan membingungkan, yang dapat mempengaruhi mereka dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Dengan melakukan ‘berbohong putih’ sama dengan mengajarkan pada anak
untuk meniru orangtuanya jika kelak ia
berada di situasi sama.
Jadi,
apa yang sebaiknya Anda lakukan? Ahli perkembangan anak mengatakan bahwa yang
terbaik adalah menghindari berbohong. Selalu jawab dengan jujur dan beri anak
penjelasan sesuai kemampuannya menyerap informasi.
Bahkan
berdasarkan ilmu psikologi, anak yang suka dibohongi walaupun white lie akan jadi penakut. Misal anak yang susah makan, lalu kita
katakan, “Kalau kamu tidak mau makan,
nanti kamu ditangkap polisi, atau sakit dan disuntik oleh dokter galak, atau
akan didatangi pocong.” Akhirnya anak tumbuh dengan perasaan takut ketemu
polisi, dokter, dan percaya pocong. []
Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1. Direktur UPU
2. Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3. Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah
Langganan:
Postingan (Atom)




















