Minggu, 01 Januari 2017

Sabtu, 31 Desember 2016

Jalan Menuju Surga

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ
Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ’anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan shalat fardhu dan berpuasa ramadhan, aku haramkan yang haram, dan aku halalkan yang halal, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.” (H.R. Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Al Iman/15/Abdul Baqi])
Penjelasan:
Asy-Syaikh rahimahullah mengatakan, hadits yang ke-22 ini perkataannya, “Bagaimana pendapatmu?” Maknanya adalah beritakanlah kepadaku. “Bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan shalat yang fardhu.” Maksudnya adalah shalat-shalat fardhu, yakni shalat lima waktu dan shalat jum’at. “Aku berpuasa Ramadhan.” Yakni bulan di antara bulan Sya’ban dan Syawwal. “Dan aku halalkan yang halal.” Yakni aku mengerjakannya dan meyakini kehalalannya. “Aku haramkan yang haram.” Yakni, aku menjauhi dan meyakini keharamannya. “Dan aku tidak melakukan lebih dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.”
Dalam hadits ini, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika dia mengerjakan shalat fardhu, berpuasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan dia tidak melakukan lebih dari itu sedikit pun, apakah ia akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.” Dalam hadits ini tidak disebutkan zakat dan ibadah haji. Ada yang berpendapat bahwa hal itu masuk dalam perkataannya, “Aku haramkan yang haram.” Karena meninggalkan haji haram hukumnya, demikian juga meninggalkan zakat. Mungkin juga dikatakan terkait dengan ibadah haji, bisa jadi hadits ini diucapkan sebelum diwajibkannya ibadah haji. Adapun yang berkaitan dengan zakat, bisa jadi Nabi mengetahui keadaan orang tersebut. Bahwa dia adalah orang miskin, tidak tergolong orang yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat, maka beliau berbicara kepadanya sesuai dengan keadaannya.
Hadits ini mengandung beberapa faedah:
1.     Antusias para sahabat untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2.     Tujuan akhir dari kehidupan ini adalah masuk ke dalam surga.
3.    Pentingnya shalat-shalat fardhu. Bahwa shalat-shalat tersebut merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga dengan disertai amalan-amalan lainnya yang disebutkan dalam hadits ini.
4.     Pentingnya ibadah puasa.
5.   Wajibnya menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, yaitu seseorang mengerjakan perkara yang halal, seraya meyakini kehalalannya. Akan tetapi, dalam hal-hal yang halal, seseorang diberi pilihan, jika ia mau, ia bisa mengerjakannya, jika tidak, ia bisa meninggalkannya. Adapun perkara yang haram ia harus menjauhinya, dan ia pun harus meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang haram. Engkau mengerjakan yang halal dengan meyakini kehalalannya dan menjauhi yang haram dengan meyakini keharamannya.
6.   Pertanyaan adalah tempat kembalinya jawaban. Karena jawaban beliau “Ya”, maksudnya adalah engkau akan masuk surga. Imam An-Nawawi berkata, “Aku haramkan yang haram”, maknanya adalah aku menjauhinya. Seyogyanya adalah dikatakan, “Menjauhinya dengan meyakini keharamannya.” Wallahu a’lam.
(Dikutip dari kitab Syarah Arba’in An-Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Jika Ingin Anakmu Shaleh

Butuh Ilmu dan Keteladanan
      Sebagian kaum muslimin ada yang sudah siap menjadi orangtua jauh-jauh hari sebelum menikah atau memiliki anak. Mereka tak letih belajar, belajar, dan belajar, baik melalui taklim, pengajian, melalui buku, bertanya, dan sarana-sarana lainnya. Ketika dikarunia anak, maka ia telah siap memaksimalkan usaha untuk memiliki anak yang shaleh. Namun sebagian kaum muslimin, ada yang tidak siap menjadi orangtua yang baik bagi buah hatinya. Mereka menjadi orangtua karena tuntutan usia saja. Awalnya ia anak-anak, lalu menjadi remaja, kemudian muda, menikahlah ia, kemudian dikaruniai anak tanpa persiapan ilmu yang memadai. Mereka malas belajar tentang trik dan cara mendidik anak, buta tentang pola pendidikan ala Nabi Muhammad.
Akhirnya, si anak mendapatkan pendidikan seketemunya dari orangtua. Memang sang bapak dan ibu sangat berharap anaknya menjadi anak yang shaleh, tapi si anak tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dari ayah dan ibunya. Jadinya, seperti pungguk merindukan bulan, jauh panggang dari api. Ada kesenjangan antara harapan dan realita.
Contoh lain, orangtua berharap anaknya rajin shalat. Tapi orangtuanya tidak pernah berdoa kepada Allah, “Ya Allah berilah aku buah hati yang ahli sujud.” Malah dulu waktu berhubungan suami istri tidak berdoa terlebih dahulu karena memang tidak hapal doanya. Setelah si anak agak besar tidak dididik cara shalat yang benar, tidak dititipkan ke lembaga keagamaan. Pokoknya si anak dibiarkan begitu saja tanpa pengajaran. Mungkinkah orangtua tersebut akan mendapati si anak sesuai harapannya, yaitu rajin shalat. Sungguh sulit untuk diwujudkan.
Satu contoh lagi, orangtua berharap si anak menjadi orang yang dermawan. Tapi orangtuanya tidak menjadi uswah hasanah bagi anaknya. Si anak sangat jarang melihat ayah ibunya membantu saudara dan tetangganya. Si anak pun tidak dikenalkan dengan sosok Nabi Muhammad yang sangat pemurah. Si anak tidak diajari tentang untungnya menjadi manusia dermawan.

Butuh Sekolah yang Baik
Di Indonesia ini lembaga pendidikan terdiri dari dua, lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan Islam. Misal di level SD, maka ada SD Umum dan SD Islam. SD Umum terdiri dari SD Negeri dan SD Swasta. Bedanya, di SD Negeri atau SD Swasta umum itu porsi pendidikan agama hanya 3 jam per pekan. Itu pun hanya pengetahuan kognitif. Biasanya di SD Negeri juga amalan keagamaan diserahkan ke masing-masing individu. Misal pas waktu dhuhur, tidak ada bimbingan dan instruksi pada seluruh anak untuk shalat dhuhur baik secara munfarid maupun berjamaah. Pokoknya tugas guru terbatas mengajar di kelas. Sangat mungkin ada juga guru di SD Umum yang menyuruh anak didiknya shalat dhuhur, tapi itu sifatnya arahan personal bukan kelembagaan sekolah secara resmi.
Nah, menyaksikan hal ini, terus terang saya prihatin dengan dunia pendidikan di Indonesia yang seperti ini. Mengapa? karena kalau membaca tujuan pendidikan nasionalnya sudah bagus, yaitu di antaranya menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa. Mungkinkah si peserta didik bisa beriman dan bertakwa di lingkungan sekolah yang sistemnya tidak menyokong seperti ini? Anak itu kan belajar dari melihat sekelilingnya. Selama enam tahun di SD, anak kita melihat guru yang menerangkan di kelas sambil merokok, minum dan makan menggunakan tangan kiri sambil berdiri, bapak dan ibu guru yang bukan muhrim berboncengan kalau naik kendaraan. Wah sangat berat mewujudkan siswa yang bertakwa. Mohon maaf, saya menyaksikan sendiri ada ibu guru yang merokok. Shalat dhuhurnya dibekel ke rumah jam dua siang. Akan tegakah kita menitipkan anak pada pengajar seperti itu?
Kini banyak bermunculan lembaga pendidikan Islam, misal di level SD ada SD Islam. Namanya bisa berbeda-beda; SD Islam atau SD Plus atau SDIT. Kehadiran SD-SD tersebut seperti mengindikasikan dua hal. Pertama, sebagai kritik terhadap SD umum yang terkesan seadanya. Yang penting belajar, tidak lebih dari itu. Kedua, idealitas agar anak muslim mendapatkan pendidikan agama dan umum berkualitas.
Terus terang, saya sangat bergembira dengan bermunculannya lembaga pendidikan Islam pada jenjang sekolah dasar atau SD. Orangtua bisa mempercayakan pendidikan putra-putrinya pada sekolah yang islami. Di SD Islam, anak-anak diajarkan akidah yang lurus, ibadah yang benar, dan akhlak yang terpuji. Di samping itu, prestasi siswa di bidang pengetahuan umum pun bisa bagus karena dibimbing oleh guru yang amanah dan profesional.
Ya paling pesan saya, antara satu lembaga pendidikan Islam dengan lembaga pendidikan Islam lain jangan dirasakan sebagai musuh dan kompetitor yang membahayakan, tapi lebih pada mitra. Ketika animo masyarakat sangat besar menyekolahkan ke lembaga Islam, kan belum tentu bisa ditampung di satu lembaga. Jadi, beruntung ada lembaga pendidikan Islam yang lain yang sama-sama mendidik generasi muslim dengan pendidikan yang sama baiknya.[]


Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1.     Direktur UPU
2.    Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3.    Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah

Sunnah-sunnah di Hari Raya Fithri


  • SHALAT IED. Shalat dua rakaat sebelum khutbah merupakan sunnah yang tidak boleh diabaikan. Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat Idul Fithri atau Idul Adha sebelum khutbah, kemudian mereka khutbah.” (H.R. At-Tirmidzi). Kaum wanita haidh dianjurkan datang untuk mendengarkan khutbah Ied, walaupun tidak ikut melaksanakan shalat.
  • MANDI DAN BERHIAS. Dalam Ahkam Al-Ied, Al-Faryabi mengatakan, Sunnah Ied itu ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum berangkat, dan mandi. Kebiasaan Rasulullah dan para sahabat radhiyyallahu ‘anhum sebelum menuju lapangan adalah mandi dan memakai parfum.
  • MAKAN SEBELUM KE LAPANGAN. Dari Anas bin Malik, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari Idul Fithri, hingga beliau makan beberapa buah kurma.” (H.R. Al-Bukhari).
  • AJAK KELUARGA. Ummu Athiyah berkata, “Kami diperintahkan, yakni oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  agar membawa para gadis yang sudah baligh, dan gadis pingitan pada hari Ied. Sehingga mereka bisa menyaksikan jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Dan wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.”
  • BERJALAN KAKI. Ali bin Abi Thalib berkata, “Termasuk sunnah berangkat ke lapangan dengan berjalan kaki dan makan terlebih dahulu sebelum keluar rumah.” (H.R. At-Tirmidzi). Jika memberatkan, maka boleh berkendaraan.
  • MENGUMANDANGKAN TAKBIR. Nabi dan para sahabat biasa mengumandangkan takbir mulai keluar rumah hingga menjelang melaksanakan shalat. Sebagaimana Abdullah bin Umar mengeraskan suara takbir pada hari Idul Fithri saat berangkat ke tempat shalat, hingga imam keluar dan beliau mengikuti takbirnya.
  • LEWAT JALAN BERBEDA. Ketika mau pulang ke rumah setelah mendengarkan khutbah, sebaiknya mengambil jalan lain selain jalan yang digunakan saat berangkat. Jabir bin Abdullah berkata, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  pada hari Ied mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui sewaktu berangkat.” (H.R. Al-Bukhari).
  • UCAPKAN SELAMAT. Dianjurkan mengucapkan selamat Ied kepada kaum muslimin pada hari ini sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in, seperti Abu Umamah Al-Bahili mengucapkan, “Taqabbalallaahu minnaa wa minkum.” (Semoga Allah menerima amalan kita semua).[]


Adab-adab Shaum Ramadhan

1.  Niat Shaum. Maksudnya, kesengajaan hati untuk melaksanakan shaum Ramadhan di siang hari. Niat tidak usah dilafadkan. Melafadkan niat dinilai sebagai perbuatan yang diada-adakan dan tidak masuk akal, karena niat tempatnya di dalam hati, bukan di lisan. Orang yang niat shaum Ramadhan tidak perlu memperbaharui niat pada setiap malam bulan Ramadhan, cukup ia berniat melaksanakan ibadah shaum saat akan memasuki bulan Ramadhan.
2.    Mengakhirkan Sahur. Waktu sahur yang paling baik menjelang shubuh, kira-kira sama dengan orang yang membaca Al-Quran 50 ayat dengan tartil. Inilah sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Mengakhirkan sahur lebih mengenakkan bagi orang yang shaum dan lebih selamat dari serangan kantuk. Ukuran 50 ayat sekitar 10 – 15 menit menjelang adzan shubuh.
3. Menyegerakan Berbuka. Dalam hadits Al-Bukhari Rasulullah bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan sepanjang menyegerakan buka.”  Shaum ditetapkan dari mulai terbit fajar sampai tibanya waktu maghrib. Bila maghrib telah tiba, maka disunnahkan segera mencicipi makanan ringan yang manis. Jadi, orang yang segera berbuka akan meraih pahala lebih besar daripada yang menunda-nundanya.
4. Tidak Berlebihan dalam Makan. Jangan terlalu kenyang makan malam, harus sekedarnya saja. Jika terlalu kenyang, kemungkinan tidak bisa mengisi malam dengan ibadah yang utama. Demikian juga jangan makan terlalu kenyang di waktu sahur, sebaiknya sekedarnya saja agar di siang hari bisa lebih energik mengisi waktu dengan aktivitas bermanfaat. Ingat, Nabi Yahya ‘alaihissalam pernah dikalahkan setan satu kali seumur hidupnya, gara-gara makan kekenyangan.
5.  Banyak Beramal Shaleh. Pahala ibadah di bulan Ramadhan berlipat-lipat nilainya. Amalan sunnah dinilai wajib dan amalan wajib dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Bacalah Al-Quran, berdoa, berzikir, shalat, sedekah, atau mendalami ilmu syar'i. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan amalan Rasulullah, “Adalah Rasulullah orang yang paling dermawan. Dan ia semakin dermawan lagi ketika bulan Ramadhan pada saat Jibril mengecek kembali Al-Quran yang telah dihapal oleh Nabi. Sungguh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu jauh lebih dermawan daripada angin yang berhembus dengan cepat.”[]


Laporan Keuangan Bulan Mei 2016


LAPORAN KEUANGAN
UPU (UMAT PEDULI UMAT) YAYASAN BAHTERA NUH ALAIHISSALAM
Sampai dengan tanggal 31 Mei 2016

PEMASUKAN BULAN MEI
JUMLAH

1. Saldo Bulan April 2016
 Rp           668.150

2. Guru dan Karyawan TKIT dan SDIT Bahtera Nuh
 Rp           202.000

3. Santri TKIT dan SDIT Bahtera Nuh
 Rp           700.000

4. Hamba Allah
 Rp        1.400.000

5. Hamba Allah
 Rp           800.000

6. Hamba Allah
 Rp           900.000
TOTAL PEMASUKAN
 Rp      4.670.150
PENGELUARAN BULAN MEI
JUMLAH

1. Uang Saku Mahasiswa Al-Islam Bekasi
 Rp           200.000

2. Iuran 3 Santri Dhuafa Jenjang SD
 Rp           190.000

3. Santunan ke Siswa Dhuafa Sukarajin Katapang
 Rp           300.000

4. Santunan ke Madrasah Al-Muawwanah Cikoneng
 Rp           100.000

5. Santunan ke Madrasah Al-Hikmah Tanjung
 Rp           100.000

6. Penyelenggaraan Fundraising Basic Training
 Rp           700.000

7. Santunan Sembako pada 6 Warga Dhuafa Gandasari
 Rp           600.000
TOTAL PENGELUARAN
 Rp      2.190.000
Saldo s.d. Tanggal 31 Mei 2016
 Rp      2.480.150

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka (faedahnya) itu untuk kamu sendiri.” (Q.S. Al-Baqarah: 272)
Anda tertarik untuk menjadi donatur UPU? Hubungi kantor kami:
Yayasan Bahtera Nuh Alaihissalam
Jl. Gandasoli Kidul No. 42 Gandasari  Katapang Bandung 40971
Rekening: BRI no. rek. 1140-01-009277-50-0
a.n. Yayasan Bahtera Nuh Alaihissalam
Konfirmasi transfer ke 0853 1514 7405 / 0813 2018 8228

Harta yang  disedekahkan merupakan harta kita yang sebenarnya. Pahala sedekah tersebut akan langsung kita nikmati di dunia ini dan juga di akhirat kelak. Insya Allah.


Ketika Anak Suka Berbohong

Di antara tugas orangtua adalah mendidik buah hatinya menjadi manusia yang jujur dan jauh dari perilaku bohong. Jika banyak orang yang merasa beruntung dengan kebohongan, maka para orangtua harus mengajarkan kepada anaknya bahwa keberuntungan itu hanya akan diperoleh melalui sikap jujur.

Mengapa Anak Suka Berbohong?
Ada banyak penyebab mengapa anak berbohong. Bisa jadi contoh buruk dari orangtua dan lingkungannya. Maksudnya, si anak meniru kebohongan yang dilakukan orangtua dan lingkungannya hidup. Bisa juga karena si anak menghindarkan diri dari hukuman. Ia berbohong karena khawatir mendapatkan hukuman dari orangtua, guru, atau temannya baik hukuman itu bersifat fisik atau pun non fisik (hukuman verbal). Jadi ia trauma atas perlakuan orangtua pada dirinya. Misal, si anak memecahkan piring. Datanglah orangtua dengan wajah marah. Si anak takut karena sebelumnya juga pernah memecahkan piring dan dihukum pukul oleh orangtuanya.
Kemungkinan lainnya anak berbohong adalah untuk menarik simpati dan perhatian. Misalnya untuk menarik simpati dan perhatian teman-temannya, ia mengaku pernah naik kapal terbang bersama ayahnya. Padahal ia sama sekali tidak naik kapal terbang, pergi ke bandara pun tidak pernah. Kemungkinan selanjutnya, anak berbohong untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Anak mengetahui bahwa dia tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkannya jika bersikap jujur. Oleh karena itu, anak berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Misal ia berkata pada temannya, “Eh, itu mobil-mobilanmu ada kotoran ayamnya. Ih jijik.” Setelah dibuang oleh temannya, mobil-mobilan pun malah diambil olehnya.”
Menghadapi Anak yang Suka Berbohong
1.  Sebagai orangtua kita dituntut untuk bijaksana. Bila kita mendapati anak berbohong, kita tidak boleh langsung marah-marah, mengadili anak dengan berbagai macam konsep dosa dan neraka. Efeknya, anak akan tetap berbohong.
2. Cari tahu benarkah anak berbohong dan untuk apa ia berbohong. Tidak perlu marah, bersikap menyelidik, menghakimi, atau dengan mengancam. Jika anak merasa terancam, lain waktu ia tidak akan mengaku, bahkan akan berusaha mengarang kebohongan lain.
3. Jika anak berbohong, beri pengertian kepada anak bahwa perilaku berbohongnya tidak disukai dan dapat berakibat buruk bagi dirinya dan orang lain. Misal akan dijauhi teman, Anda bisa menceritakan kisah penggembala yang berbohong dan serigala.
4.  Hukuman boleh diberikan jika kadar dan akibat kebohongannya benar-benar parah. Namun jangan menghukum dengan hukuman fisik. Berikan hukuman yang mendidik, misalnya berupa memutus beberapa fasilitas anak. Anak dilarang menonton acara televisi kesukaannya atau memberikan tugas membersihkan kamar tidur.

Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Berbohong?
Seringkali, orangtua menemui kesulitan saat harus mengatakan kebenaran pada anak. Itu sebabnya, sadar atau tidak sadar, orangtua sering melontarkan ‘bohong putih’.
Misal ada anak yang kulitnya hitam. Si anak mengadu kepada ayahnya karena sering diledek oleh teman-temannya. Kemudian sang ayah menghibur anaknya ini dengan mengatakan bahwa kulit anaknya tidak hitam. Sang ayah meyakinkan anaknya bahwa teman-temannya salah. Ini dinamakan ‘bohong putih’ alias White lie.
'Bohong putih' sering diartikan para orangtua sebagai kebohongan untuk tujuan baik. Dalam hal ini, untuk menyederhanakan masalah atau melindungi kepolosan anak yang belum cukup umur mengerti topik pembicaraan tertentu.
Meski banyak orang menganggap 'berbohong putih' yang dilakukan sesekali tidak apa-apa, namun dari sisi psikologi perkembangan anak, ‘berbohong putih’ tetaplah suatu kebohongan yang bisa berdampak negatif bagi anak. Dengan melakukan ‘berbohong putih’, maka si anak telah menerima pesan yang salah dan membingungkan, yang dapat mempengaruhi mereka dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Dengan melakukan ‘berbohong putih’ sama dengan mengajarkan pada anak untuk meniru orangtuanya jika kelak ia berada di situasi sama.
Jadi, apa yang sebaiknya Anda lakukan? Ahli perkembangan anak mengatakan bahwa yang terbaik adalah menghindari berbohong. Selalu jawab dengan jujur dan beri anak penjelasan sesuai kemampuannya menyerap informasi.
Bahkan berdasarkan ilmu psikologi, anak yang suka dibohongi walaupun white lie akan jadi penakut. Misal anak yang susah makan, lalu kita katakan, “Kalau kamu tidak mau makan, nanti kamu ditangkap polisi, atau sakit dan disuntik oleh dokter galak, atau akan didatangi pocong.” Akhirnya anak tumbuh dengan perasaan takut ketemu polisi, dokter, dan percaya pocong. []


Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1.     Direktur UPU
2.    Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH

3.    Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah