Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2016

Kader Iblis

Walaupun iblis la’natullahi ‘alaih sudah berhasil menyesatkan banyak manusia dari jalan kebenaran, tampaknya mereka tidak pernah merasa puas untuk menambah jumlah temannya yang nanti akan sama-sama menghuni neraka. Sebagai makhluk licik dan serakah, iblis konsisten melancarkan makar dan tipu muslihat dalam menggoda manusia, baik yang sudah durjana maupun berupaya menggelincirkan hamba Allah yang shaleh sampai titik darah penghabisan.
Hari ini, kita kaum muslimin dengan jumlah lebih dari satu milyar pengikut yang tersebar di berbagai belahan bumi, menyaksikan sebuah realitas global yang terhampar begitu jelas di depan mata kepala, bahwa ternyata kader-kader binaan iblis dari kalangan manusia begitu banyak. Mereka merangsek membobol pertahanan kita semua. Dengan dominasi dan hegemoninya mereka rusak seluruh tatanan dan aspek kehidupan umat Islam, baik aspek politik, hukum, ekonomi, maupun sosial-budaya.
Akibatnya, kita sangat mudah menemukan generasi yang masih mengaku muslim, namun mereka tidak terikat dengan ajaran Islam. Generasi yang lebih senang diatur oleh sistem hukum jahiliyyah dan ekonomi kapitalis ketimbang hukum dan sistem perekonomian Islam. Pola pemikiran dan gaya hidupnya jauh dari tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka tidak menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, malah menjustifikasi kesalahan dan menyudutkan yang benar.
Pembaca, perhatikanlah kiri kanan Anda, jangan-jangan yang menjadi korban keganasan iblis dan kadernya ini adalah keluarga kita. Ayah kita tidak mau shalat, ibu tak berjilbab, adik suka narkoba, kakak gemar hidup dengan riba. Belum lagi paman dan bibi senang korupsi, keponakan jadi bandar judi. Bermain ke rumah teman, malah dia sedang digebuki karena mencuri.
Yang harus lebih diwaspadai, jangan sampai kita sendiri justru jadi kadernya iblis! Naudzubillah.


Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1.     Direktur UPU
2.    Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3.    Ketua FKAD (Forum Komunikasi Aktivis Dakwah)

Taubat

Bila kita rajin membuka lembaran kehidupan sahabat rasul, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang menemukan cahaya ilahi setelah sekian lama berada dalam jeratan tali kejahiliyyahan. Seperti Umar bin Khaththab, beliau pernah merasakan dan berjuang membela kekafiran. Tetapi atas hidayah Allah, beliau mampu berbalik arah 180 derajat menghabiskan hidupnya untuk kepentingan Islam. Kejayaan Islam yang pernah diraih sampai memayungi dua pertiga dunia pun merupakan hasil jerih payahnya.
Sejarah hidup ulama tabi'in juga tidak semuanya seputih yang kita sangka, ulama sekaliber Malik bin Dinar yang nasihatnya begitu tajam menusuk hati ternyata mantan peminum khamr kelas berat, yang akhirnya ia pun memasuki rumah taubat. Sungguh suatu prestasi yang sangat mengagumkan, sesudah hidup dalam cahaya Islam, tidak terlintas sedikit pun di hatinya untuk kembali pada kekufuran dan kemaksiatan.
Kini pun, gelombang taubat terus bergema tak pernah henti. Banyak pencuri yang tertunduk lesu mengakui setumpuk kesalahannya, pemabuk yang akhirnya bersimpuh sujud memahasucikan-Nya, atau para pezina yang meneteskan air mata menyesali segudang perbuatan nistanya. Seakan tak mau kalah, tidak jarang koruptor yang menghentikan tindak korupsinya, pedagang lancung yang tak mau lagi mencurangi timbangan, sampai kalangan artis dan penyanyi yang menyatakan pensiun dari profesinya, bahkan ada sebagian nonmuslim yang memutuskan untuk memeluk Islam. Mereka semua memproklamirkan diri bertaubat dan memohon ampunan dari Allah yang Maha Pengampun.
Alangkah indah andaikata pemandangan taubat di atas bisa bertahan abadi sepanjang hayat masih dikandung badan. Karena sikap taubat itu nanti akan mengantarkan mereka pada akhir yang baik (husnul khatimah) saat ajal menjemput dan akan dirasakan kelezatannya di surga kelak.


Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1.     Direktur UPU
2.    Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3.    Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah

Memupuk Sifat Malu

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebut seseorang yang sudah tidak memiliki rasa malu tak ubahnya ibarat seonggok daging dan darah yang tidak mempunyai kebaikan apapun. Betapa tidak, perasaan malu merupakan pagar dan benteng yang kokoh untuk melindungi seorang hamba dari berperilaku tidak senonoh dan seronok. Lalu kalau sudah tidak ada rasa malu, berarti ia tidak memiliki pagar dan benteng lagi, sehingga setiap keinginan dan bisikan hatinya dapat direalisasikan dengan sempurna tanpa ada yang dirisihkan.
Secara mutlak, seluruh kaum muslimin harus serius merawat dan memupuk rasa malu kepada Allah dalam setiap gerak langkahnya. Adapun senjata pertama untuk memupuk rasa malu adalah menumbuhkan sikap ihsan, yakni kesadaran jiwa bahwa Allah terus menerus melihat, mengawasi, dan mengetahui setiap aktifitasnya, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.
Sikap ihsan inilah yang menyelamatkan Yusuf 'alaihissalam dari syahwat yang ditiupkan Iblis saat dipaksa oleh istri Al-Aziz melakukan perbuatan zina di rumah yang sunyi sepi. Saat itu istri Al-Aziz mengambil sehelai kain dan menggunakannya untuk menutupi patung yang terdapat di kamar karena ia merasa malu, maka Yusuf pun berkata, “Bagaimana engkau ini, engkau merasa malu oleh benda padat yang buta dan tuli. Tetapi mengapa engkau tidak merasa malu pada pengawasan Allah yang Maha Melihat?”
Senjata kedua untuk memupuk rasa malu adalah meninggalkan perbuatan maksiat. Hilangnya rasa malu dalam diri seseorang tidak terjadi secara spontan atau tiba-tiba, tetapi melalui tahapan dan proses yang bisa jadi memakan waktu sangat lama. Barangkali saat pertama kali seseorang melakukan suatu dosa, walaupun bukan terkategori dosa besar, tapi ia sangat malu, merasa tidak nyaman, dan ketakutan yang membuat keringat bercucuran. Namun bila perilaku dosa itu dikerjakan secara terus menerus dan berulang-ulang. Maka secara bertahap, pelan tapi pasti, ia akan mulai menikmati, merasa nyaman, dan menganggap wajar dosa tersebut.
Sudah saatnya kita berusaha sekuat tenaga bertaubat, mohon ampunan Allah, menjauhi dan mengubur dosa-dosa yang telah kita lalui. Bayar dan gantilah dengan amal-amal kebajikan di sini, di dunia ini. Memang, dibutuhkan kegigihan serta kesabaran. Bila kita mampu melewati aral melintang, niscaya sinar iman akan masuk menyelusup ke dalam ruangan kalbu, dan akhirnya para malaikat, manusia, dan makhluk-makhluk lainnya akan mengenalmu sebagai orang yang sangat malu kepada Allah. Mengutip sabda rasulullah dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, “Iman itu memiliki 70 cabang, dan malu itu merupakan cabang dari iman.” 

Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1.     Direktur UPU
2.    Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3.    Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah

Sabtu, 24 Desember 2016

Ketika Ada yang Wafat

Walaupun sampai saai ini belum ada tanda-tanda bahwa kematian akan segera menjumpai kita, dengan perhitungan merasa masih sangat muda dan merasa sangat sehat, namun kita telah menyaksikan banyak manusia, baik orang terdekat kita seperti orangtua, rekan kerja, teman kuliah atau pun orang yang sama sekali tidak kita kenal, mereka semua telah pergi mendahului kita kembali keharibaan-Nya. Mereka telah lebih dahulu meninggalkan dunia yang fana ini menuju alam keabadian.
Keika ada orang yang wafat, sudah semestinya menjadi bahan perenungan mendalam bagi kita, bahwa pasti suatu saat kitalah yang harus pergi mengikuti jejak langkah mereka. Yakinkan pada diri, sesungguhnya di antara yang telah mati pun terdapat orang-orang yang menyangka hidupnya akan lebih lama, sehingga mereka pun bekerja keras untuk bekal hidup, membeli mobil untuk keperluan perjalanan, dan membangun rumah mewah untuk tempat tinggalnya. Tapi harapan tinggal harapan, secara sekonyong-konyong harus diputus dengan hadirnya kematian, tidak ada yang berguna baginya selain selembar kain kafan, keranda mayat dan tanah pekuburan yang sangat sempit.
Mengingat kematian manusia lain merupakan obat yang paling manjur untuk mengingatkan kematian atas diri kita. Usia muda dan badan yang prima, sedikit pun tidak menjadi jaminan keperkasaan kita melawan malakal maut yang bertekad mencabut nyawa. Apalagi di era kehidupan ini, ketuaan dan sakit bukanlah satu-satunya penyebab kematian, tetapi banyak hal. Bisa saja kereta api yang kita tumpangi anjlok, motor kita menabrak bis, pesawat terbang yang tiba-tiba lepas kendali dan sebab-sebab lain yang menurut data statsitik, jauh lebih banyak dibandingkan faktor ketuaan dan sakit.
Benarlah firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumuah: 8).
Oleh karena itu, masihkah kita mau berlindung di bawah naungan dunia yang melalaikan ini untuk menghindari kematian, padahal sudah sampai kepada kita pengetahuan yang begitu jelas. Renungkanlah pesan Imam Al-Qurthubi, “Sungguh beruntung orang yang mengingatnya (mati), ia telah menyiapkan untuk kehidupan yang akan datang segala perbekalan dan persiapan untuk menghadapi hari yang berbahaya bagi dirinya sendiri. Hanyasanya jiwa yang keruh dan kelalaian hati yang dikotori perbuatan dosa dan maksiat membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengenang kematian dan memperbaiki diri. Sungguh celakalah bila ajal telah dekat dan tiada bekal yang disiapkan.”
Saudaraku, kematian adalah realitas tak terbantahkan. Mengingatnya merupakan keyword atau kata kunci meraih kemuliaan, dan segera mengumpulkan bekal amal adalah jalan menuju keselamatan. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin. 


Penulis : RAMDAN PRIATNA, S.Sos.I
1.     Direktur UPU
2.    Kepala Sekolah SDIT BAHTERA NUH
3.    Ketua Forum Komunikasi Aktivis Dakwah